Menyikapi Fenomena Anak Kecil Bersepeda Motor di Jalan Raya

Menyikapi Fenomena Anak Kecil Bersepeda Motor di Jalan Raya

Menyikapi Fenomena Anak Kecil Bersepeda Motor di Jalan RayaZaman telah berubah. Anak kecil sekarang bukanlah anak kecil seperti beberapa puluh tahun yang lalu. Terutama saat melihat fenomena banyak anak kecil bersepeda motor di jalan raya. Fenomena semacam ini tidak banyak ditemukan pada awal tahun 2000-an. Namun kini sudah bukan hal baru lagi. Hampir setiap hari selalu saja anak kecil yang nekat mengendarai sepeda motor.

Terutama di jalanan desa yang jauh dari pengawasan. Entah apa yang ada di pikiran orang tua mereka. Apakah saking sibuknya sampai membiarkan buah hati mereka menantang bahaya? Apakah tidak ada permainan lain yang lebih ramah ketimbang ngebut di jalanan? Anak kecil masih punya masa depan yang perlu diperjuangkan. Pertumbuhan mereka tergantung apa yang dipelajari dari lingkungan.

Apa pun alasannya, tentu hal ini tidak bisa dibenarkan. Sebab, seorang baru boleh mengemudi motor di jalan raya setelah umur mencukupi. Minimal setelah punya E-KTP. Namun ironisnya, peraturan itu terus saja dilanggar. Padahal, aturan dibuat demi keselamatan mereka. Anak kecil yang berkendara tentu berbeda dengan orang dewasa yang berkendara. Anak kecil tidak tahu bahaya. Mereka hanya tahu kesenangan.

Tentunya masih banyak pula yang merindukan anak-anak bersosialisasi dengan sesama. Bukan yang tumbuh jadi pribadi yang individualistis. Masa kanak-kanak semestinya menjadi masa emas untuk menanamkan budi luhur ke sanubari mereka. Beragam permainan seperti kelereng, gobak sodor, cublak-cublak suweng, dan permainan anak lain tentunya lebih edukatif ketimbang ngebut di jalan raya.

Apabila fenomena ini terus dibiarkan, bisa merugikan generasi muda. Sebaiknya orang yang lebih dewasa rajin mengedukasi anak kecil bahwa ngebut di jalanan tidak baik. Di jalanan banyak orang, banyak kendaraan, banyak pula risiko yang rentan terjadi kalau tidak hati-hati. Lakukan anjuran edukatif secara lembut seraya memahami kepribadian mereka. Bagaimanapun, mereka juga masih anak-anak.

Kekerasan bukanlah cara memecahkan masalah. Justru bisa menambah beban pikiran anak-anak. Coba untuk sementara waktu motor disimpan dahulu. Pergi kerja dengan menggunakan angkutan umum. Cara ini untuk menghindarkan keinginan mereka untuk naik motor kembali. Teladan melalui tindakan jauh lebih efektif daripada saat menggunakan kata-kata. Cepat atau lambat, mereka pun akan terbiasa.

Sebagai gantinya, arahkan mereka pada kegiatan yang bersifat sosial. Misalkan ajak ikut serta mengunjungi orang yang sakit di puskesmas atau rumah sakit. Hadiri setiap pertemuan yang melibat anak-anak. Dengan begitu, anak-anak akan tumbuh sewajarnya. Motor sama sekali bukan mainan yang bagus untuk anak kecil. Justru risikonya sangat besar.

Sebagai orang tua, wajib mengiringi pertumbuhan anak kecil dengan bimbingan edukatif. Namun lakukan semuanya dengan penuh kerelaan dan senang hati. Bukankah ingin mencetak generasi emas yang penuh dengan budi pekerti luhur? Apabila mereka memang suka mengebut di jalan raya, masukkan saja ke sekolah mengemudi. Siapa tahu di lintasan yang tepat, mereka akan tumbuh jadi pembalap profesional.